Menstrual Cup Pertama Saya

16:00


I'm writing this in Indonesian to inform my fellow Indonesian girls because this product is still new here. Saya pertama kali tahu tentang menstrual cup sekitar setengah tahun lalu lewat salah satu artikel yang di-share oleh BuzzFeed di Facebook: wadah dari bahan silikon/plastik untuk menampung darah menstruasi yang dipasang di dalam vagina. Saat itu saya berpikir, wah, ini pas sekali untuk saya!

Saya termasuk orang yang sangat tidak suka pakai pembalut. Masalahnya, kulit di sekitar vagina sering iritasi karena gesekan bahan pembalut. Dan lembapnya daerah di bawah sana membuat saya tidak nyaman. Alhasil, jadi sering bolak-balik ke WC untuk ganti pembalut. Yang artinya, lebih banyak sampah.

Ketika saya mengenal tampon, saya cukup girang. Tapi harga tampon yang mahal membuat saya berpikir dua kali untuk menggunakannya secara reguler. Akhirnya saya simpan stok tampon hanya untuk masa-masa darurat, yaitu kalau harus berenang atau ada kegiatan berat di luar rumah. Di dalam rumah saya tetap menggunakan pembalut.

Jadi, ketika mendengar tentang menstrual cup, saya merasa mendapat harapan baru. Hanya saja, saat itu belum ada yang jual di Indonesia. Sekitar satu setengah bulan lalu, seorang teman meng-update review pengalamannya memakai menstrual cup. Saya baru tahu, produk ini dijual online di beberapa market place. Jadilah saya mulai mencari tahu tentang menstrual cup lebih mendalam.

Saya membaca hampir semua penjelasan dan user review yang ada, untuk tahu betul bagaimana produk ini bisa cocok untuk saya. Awalnya saya sangat tertarik pada produk merk Lunette, seperti yang teman saya beli. Tapi karena stok yang tersedia di toko online itu hanya putih/bening, saya batalkan. Produk ini bisa bertahan sampai 10 tahun, jadi saya memilih warna supaya tidak terlalu kentara jika akan terjadi perubahan warna.

Pilihan saya berhenti di Lena, salah satu dari 10 produk menstrual cup terbaik dunia (menurut artikel ini.) Lalu saya mengikuti kuis ini untuk tahu produk terbaik untuk saya. Jawabannya sebenarnya Lunette, tetapi melihat keterbatasan pilihan warna dan ketersediaan produk di Indonesia, saya memilih Lena. Alasannya, karena: (1) saya suka bentuk loncengnya, (2) packaging-nya, (3) warna pastel Cup-nya, dan (4) kantong kainnya yang cute. Selain itu, juga karena (5) ditulis sebagai menstrual cup terbaik untuk beginner (baca FAQ mereka di sini.)

Dan akhirnya saya membeli Lena Cup Small warna turquoise. Kenapa small? Karena saya pikir flow saya tidak terlalu banyak dan saya tidak tahu ukuran serviks saya. Perkiraan saya, sebagai orang Asia, kita punya serviks yang rendah. Jadi saya coba yang paling aman dulu: ukuran yang kecil. Saya sendiri kurang suka kategori 'sudah melahirkan' dan 'belum' atau dari usia untuk pembagian ukuran ini. Lebih baik cek dari banyaknya flow, atau dari ukuran serviks. Cek website setiap merk menstrual cup untuk tahu ukuran yang tepat sebelum membeli ya. (Untuk Lena Cup, bisa cek di sini)

Lena Cup saya, kantong kain dan packaging-nya yang cute


Pengalaman Pertama Saya

  1. Ketika Lena Cup saya datang, saya merasa excited. Tapi masih dua minggu sampai jadwal mens. Jadi saya simpan dulu. Sementara, saya baca bolak-balik petunjuknya dan beberapa hari sebelum jadwal mens, saya rebus Lena Cup saya di air mendidih selama 7-10 menit untuk proses sterilisasi.
  2. Waktu akhirnya datang bulan, saya deg-degan juga. Tapi excited. Saya basuh Lena Cup saya dengan air dingin, lalu mencoba beberapa metode lipatan: C-fold, 7-fold, atau punch down. Rupanya saya paling cocok dengan 7-fold. (seharusnya instruksi ini ada di buku petunjuk produk)
  3. Saya cukup pede menganggap Cup saya ngga akan bocor, tapi rupanya pemakaian awal saya masih kurang sempurna dan ada leaking. Penting untuk memakai pembalut di 1-2 hari perdana ini, untuk menjaga dari kebocoran.
  4. Setelah 4 kali pemakaian saya baru menemukan metode yang cocok untuk saya. Paling mudah dilakukan saat mandi (berdiri), dimana Cup bisa masuk secara maksimal dengan mudah. Tapi setelah itu memasukkan dan mengeluarkan sambil duduk di kloset pun cukup nyaman setelah tau selahnya.
  5. Kalau ada rasa mengganjal seperti memakai tampon, artinya Cup-mu belum terpasang sempurna. Masukkan jari tengah dan dorong sampai Cup-mu 'tidak berasa'. Cek semua sisi dengan jarimu, apakah Cup sudah mengembang di dalam dan nyaman terpasang.
  6. Untuk mengeluarkan, lakukan gerakan kegel untuk membantu mendorong Cup keluar. Lalu tarik pegangannya. Biasanya di Cup ada grid yang bisa membantu menarik Cup. Cubit Cup sedikit untuk memberi udara, lalu tarik sepenuhnya. Pelan-pelan ya.
  7. Hati-hati mengeluarkan Cup karena gerakanmu bisa membuat isinya tumpah. Pelan-pelan saja, lalu tuang isinya ke lubang pembuangan WC. Bilas Cup dengan air dingin, lalu masukkan lagi.
  8. Untuk 1-2 hari pertama, sering-sering cek menstrual cup-mu, terutama kalau beli ukuran yang kecil, karena cepat penuh. Cek 2-3 jam sekali seperti saat pakai pembalut, untuk tahu kecepatan flow-mu.
  9. Kalau sedang di toilet umum, cukup bawa satu botol air untuk membilas Cup. Tidak terlalu repot sih kalau sudah lancar memasang-melepas Cup.
  10. Begitu masa menstruasi selesai (biasanya 5 hari), simpan Cup dalam kantong kain, lalu sterilisasi lagi beberapa hari sebelum datang bulan berikutnya. Praktis, kan!

Ada banyak produsen yang membuat menstrual cup dalam berbagai bentuk, bahan, ukuran dan warna.
via wordpress

Kalau kamu masih bimbang untuk beralih ke menstrual cup, coba baca pertimbangan saya ini:


Kelebihan Menstrual Cup

Alasan saya beralih ke menstrual cup dan say goodbye forever pada pembalut:

  1. Tidak mengganggu. Begitu saya berhasil memasangnya dengan tepat, rasanya seperti tidak pakai apa-apa, bahkan lebih tidak mengganggu daripada tampon. Feels so free! 
  2. Bebas buang air. Kalau memakai tampon, masih ada benang yang mengganggu yang ikut basah ketika kita pipis. Dengan menstrual cup, tidak ada halangan sama sekali.
  3. Tidak lembap dan tidak bau. Bahan dan desain Cup membantu menjaga tingkat pH agar tetap sehat dipakai. Jelas, tingkat kelembapan di bawah sana juga berkurang, seperti tidak sedang datang bulan saja.
  4. Tidak jadi kering. Kekurangan dari tampon adalah bahan seratnya yang menyerap cairan. Sehingga di hari-hari terakhir biasanya vagina terasa kering kalau tampon dipakai terlalu lama. Bahan silikon berstandar medis yang BPA-free-nya aman untuk tubuh.
  5. 'Bertemu' dengan darah hanya 2-4 kali sehari. Bisa sampai 3-5 kali di saat flow banyak, tapi cukup 2 kali di hari ketiga dan seterusnya. Jadi bisa sama sekali lupa kalau sedang menstruasi.
  6. Ramah lingkungan. Produk ini reusable dan bisa bertahan hingga 10 tahun. Jadi tidak ada lagi limbah pembalut untuk lingkungan Indonesia.
  7. Tidak perlu panik 'ngga bawa pembalut' kalau lagi di jalan. Ngga perlu takut 'nyelundupin' pembalut ke toilet, ngga perlu nyetok produk apapun.


Kekurangan Menstrual Cup

Ada juga sih, kekurangan menstrual cup. Jadi mungkin memang tidak cocok untuk semua orang:

  1. Agak sulit awalnya. Kalau kamu tidak mau bereksperimen dengan sistem memasukkan 'benda asing' ini ke dalam vagina, lebih baik hindari memakai menstrual cup. Saya baru lancar setelah 4x pemakaian, di hari kedua.
  2. Masih bisa bocor. Kalau tidak benar memakainya, kemungkinan bocor sangat besar. Jadi memang harus benar-benar ahli dan dipastikan benar memakainya.
  3. Membuatmu harus berurusan dengan darah dalam bentuk cair dan 'isi' lain yang biasanya terserap di pembalut/tampon. Untuk saya sih ga masalah. Tapi ada aja kan yang ngga suka.
  4. Itu aja sih. Saya ga kepikir kekurangan dari menstrual cup selain kesulitan awal di atas. Kecuali memang kalau kamu sama sekali tidak suka memakai tampon.
  5. Coba cek ini untuk melihat pro & con menstrual cup VS tampon.


Menstrual Cup Cocok Untuk Kamu:

  1. Yang aktif beraktifitas / berolahraga
  2. Yang tidak suka daerah vaginanya lembap
  3. Yang suka pakai tampon dan mau belajar sistem baru
  4. Yang malas membeli pembalut / tampon setiap bulan
  5. Yang mau mengurangi limbah sampai 10 tahun ke depan


Menstrual Cup Tidak Cocok Untuk Kamu:

  1. Yang tidak suka berurusan dengan darah dan cairan lain 
  2. Yang tidak suka 'bereksperimen' dengan vagina
  3. Yang berjiwa 'konservatif' dan tidak suka repot belajar hal baru
  4. Yang merasa nyaman pakai pembalut
  5. Yang tidak merasa perlu beralih ke metode lain


Pertimbangan Merk

Untuk mendapatkan Cup yang tepat, coba perhatikan poin-poin di bawah ini ya:

  1. Produsennya. Pastikan produk menstrual cup dibuat oleh produsen yang bisa dipastikan kualitasnya. Pastikan ada persetujuan FDA (Food and Drug Administration) kalau dari USA. Atau yang sudah teruji secara klinis.
  2. Bahannya. Pastikan bahannya mudah pop-up soalnya ada merk yang terlalu kaku (firm) atau lemas (soft) sehingga susah mengembang ke bentuk asalnya begitu di dalam. Ini penting untuk memastikan tidak ada kebocoran. Pastikan bahannya BPA-free dan aman untuk tubuh ya.
  3. User review. Cek sebanyak mungkin artikel dan web merknya, dan pelajari pengalaman orang yang pernah memakai. Ini bisa sangat membantu memilih merk yang tepat untukmu.
  4. Bentuk dan warnanya. Ini sih soal selera.
  5. Harganya. Menstrual cup dijual sekitar Rp 300.000-Rp 700.000 di Indonesia. Agak mahal sih, tapi kalau dipikir ini bisa bertahan sampai 10 tahun, bisa dikategorikan sebagai investasi. Jadi menurutku tetap hemat daripada harus beli pembalut/tampon setiap bulan. Worth it deh.

So, udah jelas ya semua tentang menstrual cup ini. Kalian bisa menimbang sendiri, apa Cup cocok atau tidak untuk lifestyle kalian. Dan kalau kalian sudah mantap, semoga kalian bisa dapatkan Cup yang paling cocok. Jangan lupa share juga pengalaman kalian supaya saya tahu, seberapa banyak perempuan Indonesia yang beralih ke menstrual cup.
Cheers to our better periods!

You Might Also Like

0 comments

My Books

Victoria Tunggono's books on Goodreads
Gerbang Nuswantara Gerbang Nuswantara
reviews: 3
ratings: 11 (avg rating 3.73)

Trilogi Keraton Emas: Gapura (Buku 1) E-Book Edition Trilogi Keraton Emas: Gapura (Buku 1) E-Book Edition
reviews: 2
ratings: 4 (avg rating 5.00)

Gateway to Nuswantara Gateway to Nuswantara
ratings: 1 (avg rating 5.00)

Trilogi Keraton Emas: Gapura Trilogi Keraton Emas: Gapura (Buku 1)
reviews: 1
ratings: 1 (avg rating 5.00)