This post is actually dedicated for my fellows Indonesian so I'll write this one in Indonesian.
Tabel di bawah ini saya buat sebagai bentuk protes saya terhadap pola berpikir dan bersikap masyarakat Indonesia dewasa ini. Lahir sebagai anak generasi '90an, saya yakin bukan hanya saya yang punya pola pikir memberontak dari norma budaya yang sudah mendarah daging dengan 'basa-basi busuk' yang belakangan sering kita sebut 'kepo' ini. Kepo, atau dalam bahasa Inggris disebut nosy, adalah perilaku super penasaran akan apa yang terjadi di dalam hidup orang lain.
Terus terang, sudah lama saya kesal dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang isinya hanya untuk mengorek kisah hidup sesama yang menarik untuk dibahas, tapi ya sebatas itu saja. Kebiasaan mayoritas manusia Indonesia yang 'mendengar untuk menjawab' dan bukan sebagai 'mendengar untuk mendengar' menjadi latar belakangnya. Jelas, tujuan dari pertanyaan-pertanyaan ini hanyalah untuk mengomentari, bukan memahami alasan di balik jawabannya.
Hal yang paling mengganggu saya akhir-akhir ini adalah soal anak. Memang, tidak semua orang tahu bagaimana pandangan saya terhadap anak. Tapi saya suka anak-anak. Saya sudah menggendong dan bantu mengasuh adik-adik saya sejak saya berumur 4 tahun. Saya merayakan kelahiran bayi, senang menggendong beberapa bayi, gemas akan tingkah laku mereka yang lucu. Tapi itu bukan berarti saya mau dan harus punya anak sendiri.
Kebiasaan manusia Indonesia yang suka 'kaget' dengan foto-foto bayi membuat saya sering kesal. Terutama ketika saya mengunggah foto menggendong bayi sepupu jauh saya tempo hari.
Mungkin banyak orang yang baru pernah memegang bayi ketika punya sendiri, atau waktu keponakan lahir. Yang harus diingat adalah, tidak semua orang begitu. Menggendong bayi bukan hal baru bagi saya, tapi saya paling sering mendengar orang berkomentar 'wah sudah cocok gendong bayi', lalu pertanyaan yang mengikuti biasanya 'kapan punya sendiri nih?'
Hal ini sangat mengganggu otak saya yang setengah kritis. Kalian tidak kenal saya dekat, tidak tahu seberapa sering saya sudah menggendong bayi (yang merupakan hal biasa buat saya), dan bisa-bisanya berkomentar 'sudah cocok'. Memangnya ada orang yang tidak cocok menggendong bayi? Bahkan Presiden Putin yang terlihat dingin saja bisa menggendong anjing dan menurut saya itu hal yang normal. Manusiawi. (Seakan selama ini saya tidak manusiawi ya.) Lalu jika saya cocok menggendong bayi, haruskah saya punya bayi sendiri? It doesn't work that way, people.
Dan yang paling mengganggu saya adalah, kenapa harus bertanya 'kapan punya sendiri' seakan itu adalah sebuah keharusan dalam kehidupan manusia bahwa di suatu saat semua orang wajib punya bayi dan satu-satunya pertanyaan adalah kapan hal itu akan terjadi. Mungkin 99% orang di dunia mengikuti sistem ini, tapi bukan berarti yg 1% tidak hadir di dunia ini. Ada orang-orang yang memang sama sekali tidak tertarik sama urusan anak, ada yang suka anak-anak tapi tidak mau punya anak, ada yang tidak mampu punya anak, ada yang belum siap punya anak. Kenapa harus kita urusin?
Lalu, ada banyak lagi pertanyaan kepo yang saya tidak tahan mendengarnya, baik ditujukan pada saya maupun pada orang lain di sekitar saya. Ketika ada yang ulang tahun, permintaan 'makan-makan donk' kerap mengikuti, seakan si empunya hajat wajib menghamburkan uang untuk menjamu semua orang, termasuk yang tidak begitu dekat (kalau memang dekat biasanya akan diundang atau tahu diri tidak meminta diajak makan.) Mending kalau punya kado untuk yang berulang tahun ya, yang minta makan-makan ini biasanya cuma ingin makan gratis saja. Sementara di luar negeri, ketika ada yang berulang tahun selayaknya teman-teman yang urunan membuat pesta, jamuan makan atau kejutan untuk yang ultah ini.
Lebih dalam lagi mengenai kasus kepo ini, saya selalu melihat orang-orang kepo sebagai manusia-manusia tidak bahagia. Bagi saya, kehidupan mereka begitu membosankan dan menyebalkannya sampai harus ribet ngurusin kehidupan orang lain. Mungkin mereka ingin punya anak tapi tidak bisa, jadi penasaran siapa saja yang senasib dengan mereka. Menurut saya, pertanyaan kepo seperti ini hanya membuat orang memandang kasihan pada si penanya yang mungkin tidak ia sadari.
Beberapa, memang punya anak dan bahagia dengan hal itu, tapi salahnya mereka menyamaratakan bahwa semua orang pun harus mengalami hal yang sama untuk bahagia. Tidak. Tidak semua orang kunci kebahagiaannya terletak pada anak, Kawan! Tolong jangan disamaratakan bahwa semua orang punya pola pikir, prinsip hidup dan tujuan yang sama dengan Anda. Manusia diciptakan berbeda, dan ketika kita menghargai perbedaan itulah keindahan hidup bersama tercipta. Jika Anda menyamaratakan prinsip hidup semua orang dengan prinsip Anda, artinya Anda memang tidak peduli dan tidak (mau) memahami orang lain di sekitar Anda. Alias, Anda hidup di dunia Anda sendiri!
Saya yakin semua pertanyaan kepo ini bukan dengan tujuan buruk. Masalahnya, kebiasaan ini sudah mendarah daging di negeri Indonesia seakan hal-hal ini memang wajar dipertanyakan. Sebagai orang Indonesia berdarah seperempat bule, saya punya cara berpikir lain yang tidak cocok dengan pertanyaan-pertanyaan mengganggu seperti ini. Walau untuk sebagian besar ini merupakan bagian dari 'perhatian' terhadap orang lain, bagi saya jika memang benar ada perhatian yang tulus, bentuk pertanyaannya akan berubah dengan nuansa kedekatan yang bisa dirasakan. Jadi, pertanyaan-pertanyaan ini memang terdengar sangat basa-basi.
Baiklah sekarang kita lihat dari sudut pandang lain yang bukan saya. Bagi beberapa orang (dan menurut saya ini terjadi pada kebanyakan manusia Indonesia yang sering galau), pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak dirasa mengganggu seperti yang saya rasakan, tapi lebih buruk lagi, menekan perasaan mereka secara tidak disadari. Bagi orang-orang yang tidak pede, belum menemukan jati diri, tidak punya prinsip, masih ikut-ikutan arus, pertanyaan-pertanyaan kepo bisa menjadi tuntutan hidup yang mereka pikir mereka harus penuhi. Social pressure, bahasa Inggris-nya.
Alhasil, mereka galau ketika belum punya pacar, ditinggalkan kekasih (yang menyebabkan banyak lahirnya lagu-lagu alay mengasihani diri sendiri), belum dikaruniai momongan, bertambah bobot tubuh, lagi jerawatan, dst dst. Padahal, jika mereka sudah tahu apa yang mereka mau lakukan dan capai dalam hidup, mereka tidak perlu galau. Sayangnya kepercayaan diri dan keteguhan hati masih menjadi hal yang jarang bisa ditemui di Indonesia. Atas dasar itu mungkin saya ingin jadi pahlawan yang melindungi orang-orang yang masih mencari arah hidup ini dari social pressure tadi. Kalau bisa, jangan sampai pertanyaan kepo Anda menjadi sumber ketidakbahagiaan orang lain.
Dari situlah saya terdorong untuk membuat tabel perbandingan antara komen kepo dan komen keren yang mungkin bisa sedikit menginspirasi dalam mengubah cara bertanya, cara berkomentar dan cara menyikapi kondisi seseorang (terutama yang kita tidak kenal dekat). Saya harap tabel ini bisa setidaknya membuat hubungan sosial dalam pertemanan di Indonesia ini terasa sedikit lebih nyaman, terutama bagi orang-orang yang mendapatkan 'perhatian' kalian:
Silakan di-save atau share jika kalian setuju. Let's make this world a bit better to live in together (;
![]() |
| via firsttoknow |
Tabel di bawah ini saya buat sebagai bentuk protes saya terhadap pola berpikir dan bersikap masyarakat Indonesia dewasa ini. Lahir sebagai anak generasi '90an, saya yakin bukan hanya saya yang punya pola pikir memberontak dari norma budaya yang sudah mendarah daging dengan 'basa-basi busuk' yang belakangan sering kita sebut 'kepo' ini. Kepo, atau dalam bahasa Inggris disebut nosy, adalah perilaku super penasaran akan apa yang terjadi di dalam hidup orang lain.
Terus terang, sudah lama saya kesal dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang isinya hanya untuk mengorek kisah hidup sesama yang menarik untuk dibahas, tapi ya sebatas itu saja. Kebiasaan mayoritas manusia Indonesia yang 'mendengar untuk menjawab' dan bukan sebagai 'mendengar untuk mendengar' menjadi latar belakangnya. Jelas, tujuan dari pertanyaan-pertanyaan ini hanyalah untuk mengomentari, bukan memahami alasan di balik jawabannya.
Hal yang paling mengganggu saya akhir-akhir ini adalah soal anak. Memang, tidak semua orang tahu bagaimana pandangan saya terhadap anak. Tapi saya suka anak-anak. Saya sudah menggendong dan bantu mengasuh adik-adik saya sejak saya berumur 4 tahun. Saya merayakan kelahiran bayi, senang menggendong beberapa bayi, gemas akan tingkah laku mereka yang lucu. Tapi itu bukan berarti saya mau dan harus punya anak sendiri.
Kebiasaan manusia Indonesia yang suka 'kaget' dengan foto-foto bayi membuat saya sering kesal. Terutama ketika saya mengunggah foto menggendong bayi sepupu jauh saya tempo hari.
Mungkin banyak orang yang baru pernah memegang bayi ketika punya sendiri, atau waktu keponakan lahir. Yang harus diingat adalah, tidak semua orang begitu. Menggendong bayi bukan hal baru bagi saya, tapi saya paling sering mendengar orang berkomentar 'wah sudah cocok gendong bayi', lalu pertanyaan yang mengikuti biasanya 'kapan punya sendiri nih?'
Hal ini sangat mengganggu otak saya yang setengah kritis. Kalian tidak kenal saya dekat, tidak tahu seberapa sering saya sudah menggendong bayi (yang merupakan hal biasa buat saya), dan bisa-bisanya berkomentar 'sudah cocok'. Memangnya ada orang yang tidak cocok menggendong bayi? Bahkan Presiden Putin yang terlihat dingin saja bisa menggendong anjing dan menurut saya itu hal yang normal. Manusiawi. (Seakan selama ini saya tidak manusiawi ya.) Lalu jika saya cocok menggendong bayi, haruskah saya punya bayi sendiri? It doesn't work that way, people.
Dan yang paling mengganggu saya adalah, kenapa harus bertanya 'kapan punya sendiri' seakan itu adalah sebuah keharusan dalam kehidupan manusia bahwa di suatu saat semua orang wajib punya bayi dan satu-satunya pertanyaan adalah kapan hal itu akan terjadi. Mungkin 99% orang di dunia mengikuti sistem ini, tapi bukan berarti yg 1% tidak hadir di dunia ini. Ada orang-orang yang memang sama sekali tidak tertarik sama urusan anak, ada yang suka anak-anak tapi tidak mau punya anak, ada yang tidak mampu punya anak, ada yang belum siap punya anak. Kenapa harus kita urusin?
Lalu, ada banyak lagi pertanyaan kepo yang saya tidak tahan mendengarnya, baik ditujukan pada saya maupun pada orang lain di sekitar saya. Ketika ada yang ulang tahun, permintaan 'makan-makan donk' kerap mengikuti, seakan si empunya hajat wajib menghamburkan uang untuk menjamu semua orang, termasuk yang tidak begitu dekat (kalau memang dekat biasanya akan diundang atau tahu diri tidak meminta diajak makan.) Mending kalau punya kado untuk yang berulang tahun ya, yang minta makan-makan ini biasanya cuma ingin makan gratis saja. Sementara di luar negeri, ketika ada yang berulang tahun selayaknya teman-teman yang urunan membuat pesta, jamuan makan atau kejutan untuk yang ultah ini.
Lebih dalam lagi mengenai kasus kepo ini, saya selalu melihat orang-orang kepo sebagai manusia-manusia tidak bahagia. Bagi saya, kehidupan mereka begitu membosankan dan menyebalkannya sampai harus ribet ngurusin kehidupan orang lain. Mungkin mereka ingin punya anak tapi tidak bisa, jadi penasaran siapa saja yang senasib dengan mereka. Menurut saya, pertanyaan kepo seperti ini hanya membuat orang memandang kasihan pada si penanya yang mungkin tidak ia sadari.
Beberapa, memang punya anak dan bahagia dengan hal itu, tapi salahnya mereka menyamaratakan bahwa semua orang pun harus mengalami hal yang sama untuk bahagia. Tidak. Tidak semua orang kunci kebahagiaannya terletak pada anak, Kawan! Tolong jangan disamaratakan bahwa semua orang punya pola pikir, prinsip hidup dan tujuan yang sama dengan Anda. Manusia diciptakan berbeda, dan ketika kita menghargai perbedaan itulah keindahan hidup bersama tercipta. Jika Anda menyamaratakan prinsip hidup semua orang dengan prinsip Anda, artinya Anda memang tidak peduli dan tidak (mau) memahami orang lain di sekitar Anda. Alias, Anda hidup di dunia Anda sendiri!
Saya yakin semua pertanyaan kepo ini bukan dengan tujuan buruk. Masalahnya, kebiasaan ini sudah mendarah daging di negeri Indonesia seakan hal-hal ini memang wajar dipertanyakan. Sebagai orang Indonesia berdarah seperempat bule, saya punya cara berpikir lain yang tidak cocok dengan pertanyaan-pertanyaan mengganggu seperti ini. Walau untuk sebagian besar ini merupakan bagian dari 'perhatian' terhadap orang lain, bagi saya jika memang benar ada perhatian yang tulus, bentuk pertanyaannya akan berubah dengan nuansa kedekatan yang bisa dirasakan. Jadi, pertanyaan-pertanyaan ini memang terdengar sangat basa-basi.
Baiklah sekarang kita lihat dari sudut pandang lain yang bukan saya. Bagi beberapa orang (dan menurut saya ini terjadi pada kebanyakan manusia Indonesia yang sering galau), pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak dirasa mengganggu seperti yang saya rasakan, tapi lebih buruk lagi, menekan perasaan mereka secara tidak disadari. Bagi orang-orang yang tidak pede, belum menemukan jati diri, tidak punya prinsip, masih ikut-ikutan arus, pertanyaan-pertanyaan kepo bisa menjadi tuntutan hidup yang mereka pikir mereka harus penuhi. Social pressure, bahasa Inggris-nya.
Alhasil, mereka galau ketika belum punya pacar, ditinggalkan kekasih (yang menyebabkan banyak lahirnya lagu-lagu alay mengasihani diri sendiri), belum dikaruniai momongan, bertambah bobot tubuh, lagi jerawatan, dst dst. Padahal, jika mereka sudah tahu apa yang mereka mau lakukan dan capai dalam hidup, mereka tidak perlu galau. Sayangnya kepercayaan diri dan keteguhan hati masih menjadi hal yang jarang bisa ditemui di Indonesia. Atas dasar itu mungkin saya ingin jadi pahlawan yang melindungi orang-orang yang masih mencari arah hidup ini dari social pressure tadi. Kalau bisa, jangan sampai pertanyaan kepo Anda menjadi sumber ketidakbahagiaan orang lain.
Dari situlah saya terdorong untuk membuat tabel perbandingan antara komen kepo dan komen keren yang mungkin bisa sedikit menginspirasi dalam mengubah cara bertanya, cara berkomentar dan cara menyikapi kondisi seseorang (terutama yang kita tidak kenal dekat). Saya harap tabel ini bisa setidaknya membuat hubungan sosial dalam pertemanan di Indonesia ini terasa sedikit lebih nyaman, terutama bagi orang-orang yang mendapatkan 'perhatian' kalian:
![]() |
| (klik tabel untuk melihat lebih jelas) |


























